Warga di wilayah tropis, termasuk Indonesia, dikejutkan oleh pemandangan langit malam yang tidak biasa dalam beberapa hari terakhir. Fenomena cahaya berwarna kemerahan dan ungu yang menyerupai Aurora Borealis terlihat jelas di beberapa titik pegunungan tinggi, memicu ribuan unggahan foto dan video viral di media sosial. Para peneliti dari badan antariksa internasional mengonfirmasi bahwa ini adalah dampak dari badai matahari (Solar Storm) paling ekstrem yang pernah tercatat sejak satu dekade terakhir, yang menyebabkan gangguan pada medan magnet bumi secara global.
Meskipun pemandangan ini terlihat sangat indah dan menakjubkan secara visual, para ilmuwan memberikan peringatan mengenai dampak teknis yang mungkin terjadi. Radiasi elektromagnetik dari badai matahari ini berpotensi mengganggu sistem navigasi satelit, jaringan komunikasi radio, hingga stabilitas jaringan listrik di beberapa wilayah. Di sisi lain, para pengamat alam mencatat adanya perubahan perilaku unik pada hewan-hewan migrasi, seperti burung dan penyu, yang sangat bergantung pada medan magnet bumi untuk menentukan arah perjalanan mereka.
Netizen di TikTok dan Instagram memenuhi kolom komentar dengan kekaguman, menyebutnya sebagai “Keajaiban Langit 2026”. Namun, para ahli lingkungan menekankan bahwa fenomena ini juga menjadi pengingat betapa rentannya teknologi manusia terhadap aktivitas alam semesta. Saat ini, komunitas fotografer alam dari seluruh dunia dikabarkan sedang berkumpul di titik-titik dataran tinggi untuk mengabadikan momen langka yang diprediksi hanya akan bertahan selama beberapa hari ke depan sebelum intensitas badai matahari menurun. Pihak otoritas penerbangan juga telah mengeluarkan imbauan agar pilot tetap waspada terhadap gangguan GPS selama fenomena ini berlangsung.
Sumber : Laporan Astronomi NASA, Pantauan BMKG Bidang Geofisika, Dokumentasi National Geographic News, dan Viral Report Media Sosial (Januari 2026).

