Sebuah laporan kesehatan global yang dirilis pada akhir Januari 2026 mengungkapkan penemuan mengejutkan mengenai kondisi mata yang disebut sebagai ‘Digital Blindness Syndrome’. Kondisi ini ditemukan pada pengguna perangkat gadget dengan teknologi layar ultra-bright yang kini sedang tren. Peneliti menemukan bahwa paparan cahaya biru dengan spektrum tertentu secara terus-menerus dapat memicu kelelahan saraf optik permanen lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Fenomena ini langsung viral dan memicu kekhawatiran massal di kalangan orang tua dan pekerja kantoran yang menghabiskan lebih dari 10 jam di depan layar setiap harinya.
Diskusi mengenai isu ini merajai platform media sosial, dengan jutaan netizen membagikan tips pencegahan dan mulai mencari perangkat pelindung mata berbasis teknologi AI. Di TikTok, video penjelasan dari para dokter spesialis mata mengenai aturan “20-20-20” versi terbaru menjadi konten yang paling banyak dibagikan. Kabar ini juga berdampak pada industri teknologi, di mana perusahaan-perusahaan smartphone besar mulai didesak untuk melakukan pembaruan perangkat lunak (software update) guna menurunkan emisi radiasi layar yang dianggap berbahaya tersebut.
Di Indonesia, kementerian kesehatan dikabarkan akan segera mengeluarkan panduan resmi penggunaan perangkat digital bagi anak usia sekolah guna mencegah lonjakan kasus gangguan penglihatan dini. Selain itu, muncul tren gaya hidup baru yang disebut ‘Screen Fasting’ atau puasa layar, di mana masyarakat mulai mengalokasikan waktu khusus tanpa gadget setiap harinya. Pakar kesehatan menekankan bahwa penemuan ini bukanlah untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kesehatan biologis manusia di era digital yang semakin intens ini.
Sumber : Laporan Tahunan Optometry Health Journal, Analisis Medis WHO 2026, Update Sains dari TechHealth Interactive, dan Pantauan Forum Kesehatan Global (Januari 2026).

